Aceh (bahasa Belanda: Atchin atau Acheh, bahasa Inggris: Achin, bahasa Perancis: Achen atau Acheh, bahasa Arab: Asyi, bahasa Portugis: Achen atau Achem, bahasa Tionghoa:A-tsi atau Ache)[1][2] yang sekarang dikenal sebagai provinsi Aceh memiliki akar budaya bahasa dari keluarga bahasa Monk Khmer proto bahasa Melayu [3]dengan pembagian daerah bahasa lain seperti bagian selatan menggunakan bahasa Aneuk Jame sedangkan bagian Tengah, Tenggara, dan Timur menggunakan bahasa Gayo untuk bagian tenggara menggunakanbahasa Alas seterusnya bagian timur lebih ke timur lagi menggunakan bahasa Tamiang demikian dengan kelompok etnis Klut yang berada bagian selatan menggunakan bahasa Klutsedangkan di Simeulue menggunakan bahasa Simeulue akan tetapi masing-masing bahasa setempat tersebut dapat dibagi pula menjadi dialek. Bahasa Aceh, misalnya, adalah berbicara dengan sedikit perbedaan di Aceh Besar, di Pidie, dan di Aceh Utara. Demikian pula, dalam bahasa Gayo ada Gayo Lut, Gayo Deret, dan dialek Gayo Lues dan kelompok etnis lainnya Singkil yang berada bagian tenggara (Tanoh Alas) menggunakan bahasa Singkil. sumber sejarah lainnya dapat diperoleh antara lain seperti dari hikayat Aceh, hikayat rajah Aceh dan hikayat prang sabii yang berasal dari sejarah narasi yang kemudian umumnya ditulis dalam naskah-naskah aksara Jawi (Jawoe). Namun sebagaimana kelemahan dari sejarah narasi yang berdasarkan pinutur ternyata menurut Prof. Ibrahim Alfian bahwa naskah Hikayat Perang Sabil mempunyai banyak versi dan satu dengan yang lain terdapat perbedaan demikian pula dengan naskah Hikayat Perang Sabil versi tahun 1710 yang berada di perpustakaan Universitas Leiden di negeri Belanda.[4]
Awal Aceh dalam sumber antropologi disebutkan bahwa asal-usul Aceh berasal dari suku Mantir (atau dalam bahasa Aceh: Mantee)[5] yang mempunyai keterkaitan dengan Mantera di Malaka yang merupakan bagian dari bangsa Mon Khmer (Monk Khmer).[6] Menurut sumber sejarah narasi lainnya
disebutkan bahwa terutama penduduk Aceh Besar tempat kediamannya di
kampung Seumileuk yang juga disebut kampung Rumoh Dua Blaih (desa Rumoh
12), letaknya di atas Seulimeum antara kampung Jantho dengan Tangse.
Seumileuk artinya dataran yang luas dan Mantir kemudian menyebar ke
seluruh lembah Aceh tiga segi dan kemudian berpindah-pindah ke
tempat-tempat lain.[7]
[sunting]Budaya
Pengelompokan
budaya dalam empat pembagian budaya berdasarkan kaum (kawom) atau
disebut pula sebagai suku (sukee) besar mengikuti penelusuran antara
lain melalui bahasa purba yakni; [5][8][9]
- Budaya Lhee Reutoh (kaum/suku tiga ratus) yang berasal dari budaya Mantee sebagai penduduk asli.
- Budaya Imeum Peuet (kaum/suku imam empat) yang berasal dari India selatan yang beragama Hindu.
- Budaya Tok Batee (kaum/suku yang mencukupi batu) yang datang kemudian berasal dari berbagai etnis Eurasian, Asia Timur dan Arab.
- Budaya Ja Sandang (kaum/suku penyandang) yaitu para imigran India yang umumnya telah memeluk agama Islam.
Dalam keseluruhan budaya tersebut diatas berlaku penyebutan bagi dirinya sebagai Ureueng Aceh yang berarti orang Aceh.
[sunting]Sejarah awal
Dalam sumber buku kronik kerajaan Liang [10]dan kerajaan Sui [11] di Tiongkok pernah disebutkan sekitar tahun 506 sampai 581 Masehi terdapatkerajaan Poli yang wilayah kekuasaannya meliputi Aceh Besar [12][13]sedangkan dalam Nāgarakṛtāgama di sebut sebagai Kerajaan Lamuri [14]yang
dalam sumber sejarah Arab disebut dengan Lamkrek, Lam Urik, Rami, Ramni
sedangkan dan dalam sumber sejarah Tiongkok lainnya disebut pula dengan
nama Lan Li, Lan-wuli atau Lan Wo Li dengan pelabuhan laut bernama Ilamuridesam sebagaimana juga pernah disingahi dan ditulis oleh Marco Polo (1292) asal Venesia dalam buku perjalanan pulang dari Tiongkok menuju ke Persia (Iran)[15][16] saat itu masih berada dibawah pengaruh kedaulatan kerajaan Sriwijaya dibawah wangsa (dinasti) Syailendra dengan raja pertamanya Balaputera Dewa,
yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan yang kuat dan daerah
kekuasaannya meluas, meliputi Tulang Bawang, Pulau Bangka, Jambi,
Genting Kra dan pulau Jawa yang kemudian membangun Borobudur.[17]
Ketika
kerajaan Sriwijaya sedang mencapai puncak kejayaannya dan kemakmurannya
yang memainkan peran penentu dengan menetapkan pola perdagangan terdiri
atas tiga lapisan yakni pelabuhan dan pergudangan utama padaPalembang sedangkan pelabuhan dan pergudangan sub-regional seperti Ilamuridesam (Lamuri), Takuapa (Kedah), Jambi dan Lampungselanjutnya diikuti Sungsang serta beberapa pelabuhah kecil lainnya menggunakan alur sungai Musi dimana dalam hegemoni alur perdagangan ini kerajaan mendapatkan upeti berkemakmuran ternyata mengundang kedatangnya ekspedisi armada dari raja Rajendra Chola dari Chola India selatan pada tahun 1025 dengan melakukan serangan kepada seluruh pelabuhan-pelabuhan di Sriwijaya termasuk Ilamuridesam (Lamuri) dan Takuapa (Kedah) yang dihancurkan menjadi sunyi seperti yang diriwayatkan dalam prasasti Tanjore 1030 di
India yang mengatakan bahwa dalam mengirimkan sejumlah kapal yang
sangat besar ke tengah-tengah laut lepas yang bergelombang sekaligus
menghancurkan armada gajahnya yang besar dari kerajaan melayu Sriwijaya
dan merampas harta benda yang sangat banyak berikut pintu gerbang ratna
mutu manikam terhias sangat permai, pintu gerbang batu-batu besar
permata dan akhirnya Raja Sriwijaya yang bernama Sanggrama Wijayatunggawarman dapat ditawan kemudian dilepas setelah mengaku takluk,[18] tak lama kemudian armadaChola kembali
kenegerinya sedangkan sejumlah lainnya menetap dan menjadi bagian dari
penduduk, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa penyerangan tersebut
lebih ditujukan untuk mengamankan atau pengambil alihan jalur
perdagangan pada selat Malaka yang pada waktu itu sudah merupakan jalur
perdagangan internasional yang penting daripada melakukan sebuah
pendudukan dikala kekuatan militer dan diplomasi Sriwijaya sedang
melemah[19] karena lebih tertuju pada perkembangan perdagangan.[20] sejak
kekalahan ini kewibawaan kerajaan Sriwijaya mulai menurun dengan dratis
yang memberikan peluang bagi kerajaan-kerajaan yang dahulu berada
dibawah kedaulatan Sriwijaya mulai memperbesar dan memperoleh kembali
kedaulatan penuh. Walaupun demikian keberadaan Sriwijaya baru berakhir
pada tahun 1377.
[sunting]Samudera Pasai
kerajaan Islam Samudera-Pasai di Aceh dengan rajanya Malik Al Saleh dan diteruskan oleh cucunya Malik Al Zahir
[sunting]Era Malik Al Saleh
Sebelum
Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H atau
bersamaan dengan tahun 1385 M-1923 M, ternyata nun jauh di belahan dunia
sebelah timur, di dunia bagian Asia, telah muncul Kerajaan Islam
Samudera-Pasai yang berada di wilayah Aceh yang didirikan oleh Meurah Silu (Meurah berarti Maharaja dalam bahasa Aceh) yang segera berganti nama setelah masuk Islam dengan nama Malik al-Saleh yang
meninggal pada tahun 1297. Dimana penggantinya tidak jelas, namun pada
tahun 1345 Samudera-Pasai diperintah oleh Malik Al Zahir, cucu Malik
al-Saleh.
[sunting]Politik Samudera Pasai bertentangan dengan Politik Gajah Mada
Gajah Mada yang diangkat sebagai patih di Kahuripan (1319-1321) oleh Jayanagara dari Majapahit. Dan pada tahun 1331, naik pangkat Gajah Mada menjadi mahapatih Majapahit yang diangkat oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.
Ketika
pelantikan Gajah Mada menjadi mahapatih Majapahit inilah keluar
ucapannya yang disebut dengan sumpah palapa yang berisikan "dia tidak
akan menikmati palapa sebelum seluruh Nusantara berada dibawah kekuasaan
kerajaan Majapahit". Ternyata dengan dasar sumpah palapanya inilah
Gajah Mada merasa tidak senang ketika mendengar dan melihat bahwa Samudera Pasai di
Aceh makin berkembang dan maju. Pada tahun 1350 Majapahit ingin
menggempur Samudera Pasai, tetapi Majapahit tidak pernah mencapai
kerajaan Samudra Pasai karena di hadang askar Sriwijaya.
Selama 27 tahun Majapahit dendam terhadap kerajaan Sriwijaya dan
kemudian pada tahun 1377 giliran Sriwijaya digempurnya, sehingga
habislah riwayat Sriwijaya sebagai negara Budha yang berpusat di Palembang ini.
[sunting]Kesultanan Aceh
[sunting]Era Sultan Iskandar Muda
Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatera Timur, hingga Perak di semenanjung Malaysia.
Aceh merupakan salah satu bangsa di pulau Sumatra yang memiliki tradisi militer, dan pernah menjadi bangsa terkuat di Selat Malaka, yang meliputi wilayah Sumatra dan Semenanjung Melayu, ketika dibawah kekuasaan Iskandar Muda.
Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang.
Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan
memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman
Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih
karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang
berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
[sunting]Aceh melawan Portugis
Ketika Kesultanan Samudera Pasai dalam krisis, maka Kesultanan Malaka yang muncul dibawah Parameswara (Paramisora)
yang berganti nama setelah masuk Islam dengan panggilan Iskandar Syah.
Kerajaan Islam Malaka ini maju pesat sampai pada tahun 1511 ketika
Portugis dibawah pimpinan Afonso d'Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka.
Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, kembali Aceh bangkit dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528).
Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan Alauddin
Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573).
Sultan Seri Alam (1576. Sultan Muda (1604-1607). Sultan Iskandar Muda,
gelar marhum mahkota alam (1607-1636). Semua serangan yang dilancarkan
pihak Portugis dapat ditangkisnya.
[sunting]Hubungan dengan Barat
[sunting]Inggris
Pada abad ke-16, Ratu Inggris, Elizabeth I, mengirimkan utusannya bernama Sir James Lancester kepada
Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: "Kepada Saudara Hamba,
Raja Aceh Darussalam." serta seperangkat perhiasan yang tinggi
nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik "saudarinya" di
Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah
kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga
termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas
kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar
"Orang Kaya Putih".
Sultan
Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut cuplikan isi
surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah kerajaan Inggris,
tertanggal tahun 1585:
| “ | Sayalah sang penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatra dan atas seluruh wilayah wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam. | ” |
Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggris dan
Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk
Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal
dengan nama Meriam Raja James.
[sunting]Belanda
Selain Kerajaan Inggris, Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje–
juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan
Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan
rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin olehTuanku Abdul Hamid.
Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang
singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan
akhirnya meninggal dunia. Ia dimakamkan secara besar-besaran di Belanda
dengan dihadiri oleh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang
Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka beliau dimakamkan
dengan cara agama Nasrani di pekarangan sebuah gereja. Kini di makam beliau terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard suami mendiang Ratu Juliana dan Ayah Yang Mulia Ratu Beatrix.
[sunting]Utsmaniyah
Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang berkedudukan di Istanbul.
Karena saat itu Sultan Utsmaniyah sedang gering maka utusan Kerajaan
Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual
sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka.
Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan
mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan
menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa
orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam
tersebut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada
Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Utsmaniyah mengirimkan sebuah
bintang jasa kepada Sultan Aceh.
[sunting]Perancis
Kerajaan
Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Perancis. Utusan Raja
Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang
sangat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut
pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin tersebut sebagai
hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Denys Lombard mengatakan
bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada
masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang
memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Menurut
Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari
dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini
Meuligo Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan
Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan
Iskandar Muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran Sungai Krueng Aceh
hingga mengaliri istananya (sungai ini hingga sekarang masih dapat
dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe). Di sanalah sultan acap
kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.
[sunting]Pasca-Sultan Iskandar Thani
Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Thani mengalami
kemunduran yang terus menerus. Hal ini disebabkan kerana naiknya empat
Sultanah berturut-turut sehingga membangkitkan amarah kaum Ulama Wujudiyah. Padahal, Seri Ratu Safiatudin Seri Ta'jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam yang
merupakan Sultanah yang pertama adalah seorang wanita yang amat cakap.
Ia merupakan puteri Sultan Iskandar Muda dan Isteri Sultan Iskandar
Thani. Ia juga menguasai 6 bahasa, Spanyol, Belanda, Aceh, Melayu, Arab, danPersia.
Saat itu di dalam Parlemen Aceh yang beranggotakan 96 orang, 1/4 di
antaranya adalah wanita. Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut
hingga datang fatwa dari Mufti Besar Mekkah yang menyatakan keberatannya akan seorang wanita yang menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa kejayaan wanita di Aceh.
[sunting]Datangnya pihak kolonial
Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) danBelanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.
Pada tahun 1824, Perjanjian Britania-Belanda ditandatangani: Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.
[sunting]Perang Aceh
Tahun 1873 pecah perang Aceh melawan Belanda. Perang Aceh disebabkan karena:
- Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari perjanjian Siak 1858. Dimana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda ada dibawah kekuasaan Aceh.
- Belanda melanggar Siak, maka berakhirlah perjanjian London (1824). Dimana isi perjanjian London adalah Belanda dan Inggris membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Sinagpura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.
- Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan Aceh. Perbuatan Aceh ini disetujui Inggris, karena memang Belanda bersalah.
- Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalulintas perdagangan.
- Dibuatnya Perjanjian Sumatera 1871 antara Inggris dan Belanda, yang isinya, Inggris memberika keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Sumatera. Belanda mengizinkan Inggris bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guinea Barat kepada Inggris.
- Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia, Turki di Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki 1871.
- Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tengtang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.
Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik. Sebuah ekspedisi dengan 3.000 serdadu yang dipimpin Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler dikirimkan pada tahun 1874, namun dikalahkan tentara Aceh, di bawah pimpinan Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah, yang telah memodernisasikan senjatanya. Köhler sendiri berhasil dibunuh pada tanggal 10 April 1873.
Ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten berhasil merebut istana sultan. Ketika Sultan Machmud Syah wafat pada tanggal 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Pada 13 Oktober 1880,
pemerintah kolonial menyatakan bahwa perang telah berakhir.
Bagaimanapun, perang dilanjutkan secara gerilya dan perang fi'sabilillah
dikobarkan, di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai
tahun 1904.
Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan Aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikat di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III dari Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman azh-Zhahir untuk meminta bantuan kepada Kalifah Usmaniyah. Namun Turki Utsmani kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika Serikat menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.
Perang kembali berkobar pada tahun 1883.
Pasukan Belanda berusaha membebaskan para pelaut Britania Raya yang
sedang ditawan di salah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh, dan
menyerang kawasan tersebut. Sultan Aceh menyerahkan para tawanan dan
menerima bayaran yang cukup besar sebagai gantinya. Sementara itu,
Menteri Perang Belanda,August Willem Philip Weitzel, kembali menyatakan perang terbuka melawan Aceh. Belanda kali ini meminta bantuan para pemimpin setempat, di antaranya Teuku Umar. Teuku Umar diberikan gelar panglima perang besar dan pada 1 Januari 1894 bahkan
menerima dana bantuan Belanda untuk membangun pasukannya. Ternyata dua
tahun kemudian Teuku Umar malah menyerang Belanda dengan pasukan baru
tersebut. Dalam perang gerilya ini Teuku Umar bersama Panglima Polem dan
Sultan terus tanpa pantang mundur. Tetapi pada tahun 1899 ketika
terjadi serangan mendadak dari pihak Van Der Dussen di Meulaboh Teuku
Umar gugur. Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Umar siap tampil menjadi
komandan perang gerilya.
Pada tahun 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang
telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh,
kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan
kepada para ulama,
bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Dr Snouck Hurgronye
yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti
kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan
dengan judul Rakyat Aceh (De Atjehers). Dalam buku itu disebutkan rahasia bagaimana untuk menaklukkan Aceh.
Isi nasihat Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda yang bertugas di Aceh adalah:
- Mengesampingkan golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala) beserta pengikutnya.
- Senantiasa menyerang dan menghantam kaum ulama.
- Jangan mau berunding dengan para pimpinan gerilya.
- Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya.
- Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh.
Pada tahun 1898, Joannes Benedictus van Heutsz dinyatakan
sebagai gubernur Aceh pada 1898-1904, kemudian Dr Snouck Hurgronye
diangkat sebagai penasihatnya, dan bersama letnannya, Hendrikus Colijn (kelak menjadi Perdana Menteri Belanda), merebut sebagian besar Aceh.
Sultan M. Daud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah
dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh
Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904.
Istana Kesultanan Aceh kemudian diluluhlantakkan dan diganti dengan
bangunan baru yang sekarang dikenal dengan nama Pendopo Gubernur. Pada
tahun tersebut, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.
Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan marechaussee yang dipimpin oleh Hans Christoffel dengan
pasukan Colone Macannya yang telah mampu dan menguasai
pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari dan
mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh.
Taktik
berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota
keluarga Gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri
Sultan dan Tengku Putroe (1902). Van der Maaten menawan putera Sultan
Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902
ke Sigli dan berdamai. Van der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse
kembali, Panglima Polem dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya
ditangkap putera Panglima Polem, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan
beberapa keluarga terdekatnya. Akibatnya Panglima Polem meletakkan
senjata dan menyerah ke Lhokseumawe (1903). Akibat Panglima Polem menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polem.
Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yang dilakukan di bawah pimpinan Van Daalen yang menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuto Reh(14 Juni 1904) dimana 2922 orang dibunuhnya, yang terdiri dari 1773 laki-laki dan 1149 perempuan.
Taktik
terakhir menangkap Cut Nya' Dien istri Teuku Umar yang masih melakukan
perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya' Dien dapat ditangkap
dan diasingkan keSumedang, Jawa Barat.
[sunting]Surat tanda penyerahan
Van
Heutz telah menciptakan surat pendek penyerahan yang harus
ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan
menyerah, yang isinya: Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian
dari daerah Hindia-Belanda. Raja berjanji tidak akan mengadakan hubungan
dengan kekuasaan di luar negeri. Berjanji akan mematuhi seluruh
perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. (RH Saragih, J Sirait, M
Simamora, Sejarah Nasional, 1987)
[sunting]Bangkitnya nasionalisme
Sementara
pada masa kekuasaan Belanda, bangsa Aceh mulai mengadakan kerjasama
dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam berbagai
gerakan nasionalis dan politik. Sarekat Islam, sebuah organisasi dagang Islam yang didirikan di Surakarta pada tahun 1912, tiba di Aceh pada sekitar tahun 1917. Ini kemudian diikuti organisasi sosialMuhammadiyah pada tahun 1923. Muhammadiyah membangun sebuah sekolah Islam di Kutaraja (kini bernama Banda Aceh) pada tahun 1929. Kemudian pada tahun 1939, Partai Indonesia Raya (Parindra)
membukan cabangnya di Aceh, menjadi partai politik pertama di sana.
Pada tahun yang sama, para ulama mendirikan PUSA (Persatuan Ulama
Seluruh Aceh), sebuah organisasi anti-Belanda.
[sunting]Perang Dunia II
Aceh kian hari kian terlibat dalam gerakan nasionalis Indonesia. Saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. (Nyak Arif lalu dilantik sebagai gubernur Aceh oleh gubernur Sumatra pertama, Moehammad Hasan).
Seperti banyak penduduk Indonesia dan Asia Tenggara lainnya, rakyat Aceh menyambut kedatangan tentara Jepang saat mereka mendarat di Aceh pada 12 Maret 1942,
karena Jepang berjanji membebaskan mereka dari penjajahan. Namun
ternyata pemerintahan Jepang tidak banyak berbeda dari Belanda. Jepang
kembali merekrut para uleebalang untuk mengisi jabatan Gunco dan
Sunco (kepala adistrik dan subdistrik). Hal ini menyebabkan kemarahan
para ulama, dan memperdalam perpecahan antara para ulama dan uleebalang. Pemberontakan terhadap Jepang pecah di beberapa daerah, termasuk di Bayu, dekat Lhokseumawe, pada tahun 1942, yang dipimpin Teungku Abdul Jalil, dan di Pandrah dan Jeunieb, pada tahun 1944.
[sunting]Masa Republik Indonesia
[sunting]Kedudukan Aceh di dalam Republik Indonesia Serikat
41
tahun kemudian semenjak selesainya perang Aceh, Indonesia
diproklamasikan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Ternyata
perjuangan untuk bebas dari cengkraman Belanda belum selesai, sebelum Hubertus Johannes van Mook menciptakan negara-negara bonekanya yang tergabung dalam RIS (Republik Indonesia Serikat).
Ternyata
Aceh tidak termasuk negara bagian dari federal hasil ciptaan Van Mook
yang meliputi seluruh Indonesia yang terdiri dari:
- Negara RI, yang meliputi daerah status quo berdasarkan Perjanjian Renville.
- Negara Indonesia Timur.
- Negara Pasundan, termasuk Distrik Federal Jakarta
- Negara Jawa Timur
- Negara Madura
- Negara Sumatra Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan Labuhan Batu
- Negara Sumatra Selatan
- Satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, seperti Jawa Tengah, Bangka-Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.
- Daerah-daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah-daerah bagian.
Sebagai gantinya, Aceh termasuk ke dalam Republik Indonesia, di mana Republik Indonesia adalah salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat.
Sehingga dengan demikian, Aceh termasuk juga ke dalam sistem Republik
Indonesia Serikat, meskipun tidak berwujud sebagai negara bagian yang
terpisah.
Yang
terpilih menjadi Presiden RIS adalah Soekarno dalam sidang Dewan
Pemilihan Presiden RIS pada tanggal 15-16 Desember 1949. Pada tanggal 17
Desember 1949 Presiden Soekarno dilantik menjadi Presiden RIS. Sedang
untuk jabatan Perdana Menteri diangkat Mohammad Hatta. Kabinet dan
Perdana Menteri RIS dilantik pada tanggal 20 Desember 1949.
Belanda di bawah Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees, Menteri Seberang Lautan Mr. Maan Sassen dan ketua Delegasi RIS Mohammad Hatta membubuhkan
tandatangannya pada naskah pengakuan kedaulatan RIS oleh Belanda dalam
upacara pengakuan kedaulatan RIS pada tanggal 27 Desember 1949.
Pada tanggal yang sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan
RI kepada RIS. Sedangkan di Jakarta pada hari yang sama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Antonius Hermanus Johannes Lovink dalam
suatu upacara bersama-sama membubuhkan tandangannya pada naskah
penyerahan kedaulatan. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949,
Sekretariat Negara RI, 1986)
[sunting]Kembali ke Negara Kesatuan
Tanggal
8 Maret 1950 Pemerintah RIS dengan persetujuan Parlemen (DPR) dan Senat
RIS mengeluarkan Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata
Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS. Berdasarkan Undang-Undang Darurat
itu, beberapa negara bagian menggabungkan ke RI, sehingga pada tanggal 5
April 1950 yang tinggal hanya tiga negara bagian yaitu, RI, NST (Negara
Sumatera Timur), dan NIT (Negara Indonesia Timur).
Pada
tanggal 14 Agustus 1950 Parlemen dan Senat RIS mengesahkan Rancangan
Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia hasil
panitia bersama.
Pada
rapat gabungan Parlemen dan Senat RIS pada tanggal 15 Agustus 1950,
Presiden RIS Soekarno membacakan piagam terbentuknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Pada hari itu juga Presiden Soekarno kembali ke
Yogya untuk menerima kembali jabatan Presiden RI dari Pemangku Sementara
Jabatan Presiden RI Mr. Asaat. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964,
Sekretariat Negara RI, 1986)
[sunting]Maklumat Negara Islam Indonesia Aceh
3 tahun setelah RIS bubar dan kembali menjadi RI, Daud Beureueh di Aceh memaklumatkan Negara Islam Indonesia di bawah Imam Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 20 September 1953.
Isi Maklumat NII di Aceh adalah:
| “ | Dengan
lahirnja peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah
sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah
sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam.
Dari itu dipermaklumkan kepada seluruh Rakjat, bangsa asing, pemeluk bermatjam2 Agama, pegawai negeri, saudagar dan sebagainja:
Negara Islam Indonesia
Gubernur Sipil/Militer Atjeh dan Daerah sekitarnja. MUHARRAM 1373 Atjeh Darussalam September 1953 | ” |
[sunting]Daud Beureueh menyerah
Bulan Desember 1962, 7 bulan setelah Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo Imam NII tertangkap (4 Juni 1962) di atas Gunung Geber di
daerah Majalaya oleh kesatuan-kesatuan Siliwangi dalam rangka Operasi
Bratayudha, Daud Beureueh di Aceh menyerah kepada Penguasa Daulah
Pancasila setelah dilakukan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" atas
prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. (30 Tahun
Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986)
[sunting]Hasan Di Tiro mendeklarasi Negara Aceh Sumatera
14 tahun kemudian setelah Daud Beureueh pada masa Hasan Tiro pada
tanggal 4 Desember 1976 mendeklarasikan kemerdekaan Aceh Sumatra. Bunyi
deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatra itu adalah:".[21]
| “ | "Kepada rakyat di seluruh dunia:
Kami,
rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan
melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini
mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik
pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa.
Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat.
Tengku Hasan Muhammad di Tiro.
Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra,
4 Desember 1976"
| ” |
[sunting]Akhir konflik
Pada 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya berhasil mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik berkepanjangan tersebut.
Pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.
Di
samping itu telah muncul aspirasi dari beberapa wilayah NAD, khususnya
di bagian barat, selatan dan pedalaman untuk memisahkan diri dari NAD
dan membentuk 2 provinsi baru yang disebut Aceh Leuser Antara yang
terdiri dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Singkil, serta Aceh Barat Selatan atau ABAS yang terdiri dariNagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Simeulue, Aceh Barat dan Aceh Jaya.
4 Desember 2005 diadakan Deklarasi bersama di Gelora Bung Karno,
Jakarta yang dihadiri ratusan orang dan 11 bupati yang ingin dimekarkan
wilayahnya, dan dilanjutkan dengan unjukrasa yang menuntut lepasnya 11
kabupaten tadi dari Aceh.
Pada 15 Agustus 2005,
GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai
sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung
selama hampir 30 tahun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar